Jumat, 16 September 2016

KURIKULUM ADALAH DOKTRIN PENGUASA


 
Gambar Ilustrasi


Ditulis Oleh TB.AUJANI-
Berbicara tentang kurikulum, tentu saja tidak lepas dari dunia pendidikan. Namun sadar atau tidak sadar, siapakah yang memiliki wewenang untuk menyetel dan menentukan kurikulum itu? Tentu saja jawabannya adalah penguasa. Sebagai contoh apabila suatu Negara melarang Teori Darwin, maka tidak akan diajarkan Teori Darwin dalam kurikulum pendidikan di negaranya, begitupun sebaliknya. Dan mengenai Ideologipun seperti itu, diajarkan dan disesuaikan menurut pandangan penguasa suatu negara melalui kurikulum pendidikan yang diajarkan oleh segelintir orang yang dibayarnya terutama pada pendidikan sosial dan kewarganegaraan.

Semua penguasa di seleruh dunia yang mana singgasananya terpaku di setiap ibu kota negara, dari timur hingga barat, dari awal berdiri hingga kehancuran rezimnya. Telah menjadikan kurikulum pendidikan sebagai doktrin atau upaya mencuci otak rakyatnya supaya tetap tunduk kepada kekuasaannya.

Apa yang diajarkan dan dianggap benar dalam sebuah kurikulum pendidikan yang sudah disetel oleh penguasa terutama pendidikan sosial dan budaya, maka seolah-olah itulah yang harus diyakini benar oleh masyarakat. Kita bisa melihat contoh yang terjadi di Korea Utara, di mana sedari kecil yaitu sejak mengenyam pendidikan dasar, anak-anak di sana sudah diajarkan bahwa Ideologi yang terbaik adalah Ideologi Komunis. Maka tidak heran setelah mereka dewasa, mereka meyakini bahwa Ideologi yang terbaik adalah Ideologi Komunis.

Sebagaimana yang terjadi di Korea Utara, begitupun yang terjadi di Republik Rakyat China yang mendoktrin rakyatnya dengan Komunisme Sosialis, Republik Islam Iran yang mendoktrin rakyatnya dengan Jumhuriah Syi’ah, Kerajaan Saudi Arabia yang mendoktrin rakyatnya dengan Sulthaniah Wahabiyah, Federasi Amerika Serikat yang mendoktrin rakyatnya dengan Liberalisme Kapitalis, dan di seluruh negara lainnya juga termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mendoktrin rakyatnya dengan Ideologi Pancasila.

Suatu Ideologi yang diterapkan di suatu negara alasannya bukan karena benar atau tidak benar, bukan juga karena pantas atau tidak pantas, dan bukan pula karena cocok atau tidak cocok. Akantetapi alasannya lebih merujuk kepada Pemaksaan. Ya Pemaksaan, karena suatu Ideologi itu adalah suatu paham yang diyakini sekelompok orang kemudian memaksa orang lain untuk mematuhinya dengan menggunakan kekuatan fisik seperti militer dan senjata. 

Abdolf Hitler, yaitu seorang pemimpin Ideologi NAZI (Nasionalis, Sosialis, Chauvinis) yang menguasai Jerman semenjak akhir Perang Dunia I hingga akhir Perang Dunia II. Abdolf Hitler tidak akan dapat menegakan Ideologi NAZI di wilayahnya yang meliputi Jerman, Polandia, Belanda, Austria. Kecuali dengan menggunakan kekuatan fisik, yaitu dengan Tentara, Tank,  Panser, Pesawat Tempur, dan sebagainya. Pada saat Imperium NAZI berlangsung, sebagian rakyatnya memang ada yang menyukai Ideologi NAZI, namun sebagian lainnya dipaksa tunduk oleh NAZI walaupun tidak menyukainya.

Apabila ada salah satu Ideologi yang paling kuat, maka itulah yang akan  menang dan berkuasa. Di Indonesia dulu pun di masa awal kemerdekaan, telah terjadi Kompetisi Perang Ideologi, tiga fraksi diantaranya adalah Pancasila, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mengusung Ideologi Komunis,  dan Darul Islam (DI) yang mengusung Negara Islam Indonesia. Dari tiga fraksi tersebut dua diantaranya yaitu DI dan PKI dapat dikalahkan oleh Pancasila. Sehingga yang mengatur bangsa Indonesia adalah Ideologi Pancasila.

Sedangkan di Syiria, terjadi peperangan antara beberapa Ideologi, dengan memiliki kekuatan nyaris seimbang. Sehingga Kompetisi Perangpun terus berlangsung hingga berkepanjangan. Sementara rakyat awam hanya menjadi korban dari sebuah kompetisi mengerikan ini.

Demikianlah Ideologi apabila dilihat dari sudut pandang bebas, dan tidak memihak. Sebenarnya bagi rakyat awam, siapapun yang berkuasa maka itu yang ia patuhi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar