![]() |
| Gambar Ilustrasi |
Ditulis Oleh TB.AUJANI-
Berbicara
tentang kurikulum, tentu saja tidak lepas dari dunia pendidikan. Namun sadar
atau tidak sadar, siapakah yang memiliki wewenang untuk menyetel dan menentukan kurikulum
itu? Tentu saja jawabannya adalah penguasa. Sebagai contoh apabila suatu Negara melarang Teori Darwin, maka tidak akan diajarkan Teori Darwin dalam kurikulum pendidikan di negaranya, begitupun sebaliknya. Dan mengenai Ideologipun seperti itu, diajarkan dan disesuaikan menurut pandangan penguasa suatu negara melalui kurikulum pendidikan yang diajarkan oleh segelintir orang yang dibayarnya terutama pada pendidikan sosial dan kewarganegaraan.
Semua
penguasa di seleruh dunia yang mana singgasananya terpaku di setiap ibu kota
negara, dari timur hingga barat, dari awal berdiri hingga kehancuran rezimnya. Telah
menjadikan kurikulum pendidikan sebagai doktrin atau upaya mencuci otak rakyatnya supaya tetap
tunduk kepada kekuasaannya.
Apa
yang diajarkan dan dianggap benar dalam sebuah kurikulum pendidikan yang sudah
disetel oleh penguasa terutama pendidikan sosial dan budaya, maka seolah-olah
itulah yang harus diyakini benar oleh masyarakat. Kita bisa melihat contoh yang
terjadi di Korea Utara, di mana sedari kecil yaitu sejak mengenyam pendidikan
dasar, anak-anak di sana sudah diajarkan
bahwa Ideologi yang terbaik adalah Ideologi Komunis. Maka tidak heran setelah mereka dewasa,
mereka meyakini bahwa Ideologi yang terbaik adalah Ideologi Komunis.
Sebagaimana
yang terjadi di Korea Utara, begitupun
yang terjadi di Republik Rakyat China yang mendoktrin rakyatnya dengan
Komunisme Sosialis, Republik Islam Iran yang mendoktrin rakyatnya dengan
Jumhuriah Syi’ah, Kerajaan Saudi Arabia yang mendoktrin rakyatnya dengan
Sulthaniah Wahabiyah, Federasi Amerika Serikat yang mendoktrin rakyatnya dengan
Liberalisme Kapitalis, dan di seluruh negara lainnya juga termasuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang mendoktrin rakyatnya dengan Ideologi Pancasila.
Suatu
Ideologi yang diterapkan di suatu negara alasannya bukan karena benar atau
tidak benar, bukan juga karena pantas atau tidak pantas, dan bukan pula karena
cocok atau tidak cocok. Akantetapi alasannya lebih merujuk kepada Pemaksaan. Ya
Pemaksaan, karena suatu Ideologi itu adalah suatu paham yang diyakini sekelompok
orang kemudian memaksa orang lain untuk mematuhinya dengan menggunakan kekuatan
fisik seperti militer dan senjata.
Abdolf
Hitler, yaitu seorang pemimpin Ideologi NAZI (Nasionalis, Sosialis, Chauvinis)
yang menguasai Jerman semenjak akhir Perang Dunia I hingga akhir Perang Dunia
II. Abdolf Hitler tidak akan
dapat menegakan Ideologi NAZI di wilayahnya yang meliputi Jerman, Polandia, Belanda, Austria. Kecuali dengan menggunakan kekuatan fisik, yaitu dengan
Tentara, Tank, Panser, Pesawat Tempur, dan
sebagainya. Pada saat Imperium NAZI berlangsung, sebagian rakyatnya memang ada yang menyukai Ideologi NAZI, namun sebagian
lainnya dipaksa tunduk oleh NAZI walaupun tidak menyukainya.
Apabila ada
salah satu Ideologi yang paling kuat, maka itulah yang akan menang dan berkuasa. Di Indonesia
dulu pun di masa awal kemerdekaan, telah terjadi Kompetisi Perang Ideologi, tiga
fraksi diantaranya adalah Pancasila, Partai Komunis Indonesia (PKI) yang
mengusung Ideologi Komunis, dan Darul
Islam (DI) yang mengusung Negara Islam Indonesia. Dari tiga fraksi tersebut dua diantaranya yaitu DI dan PKI dapat dikalahkan oleh Pancasila. Sehingga yang
mengatur bangsa Indonesia adalah Ideologi Pancasila.
Sedangkan
di Syiria, terjadi peperangan antara beberapa Ideologi, dengan memiliki
kekuatan nyaris seimbang. Sehingga Kompetisi Perangpun terus berlangsung hingga
berkepanjangan. Sementara rakyat awam hanya menjadi korban dari sebuah
kompetisi mengerikan ini.
Demikianlah
Ideologi apabila dilihat dari sudut pandang bebas, dan tidak memihak. Sebenarnya
bagi rakyat awam, siapapun yang berkuasa maka itu yang ia patuhi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar